Danbo ( Boneka Kardus dari negeri Sakura yang punya jiwa )

Posted by Multimedia Karya Kita On 28 Nov 2011 0 komentar

Danbo Turtle
 
DANBO adalah kependekan dari Danboard, dibuat dari kertas karton board.
 
Boneka ini adalah kreasi dari Azuma Kiyohiko seorang komikus serial manga Yotsuba.
 
Bentuk boneka ini sangat unik, yaitu action figure dengan penampilan seperti manusia dengan ukuran mini 7 cm dan 13 cm. Siapa pun pasti akan merasa gemas ketika melihat si Danbo ini. 
 
 
 
 
Bagaimana tidak DANBO dapat digerakkan secara manual dan dibentuk dengan berbagai macam gaya unik.
 
Perusahaan yang membuatnya menggunakan teknologi tinggi di setiap persendian boneka ini sehingga membuatnya mampu bergerak luwes.
 
Ekspresi dari si kardus imut ini menjadi daya tarik utama. Danbo sendiri di jepang dijual dengan harga mulai dari 5000 yen atau sekitar Rp. 500.000 rupiah per bijinya. 

Dalam serial manganya danbo mungil ini dapat bergerak ketika ada koin yang dimasukan kedalam mulutnya.

Anda tertarik memilikinya? Saat ini boneka kardus ini bisa dipesan Online di Amazon.jp. Dasar Danbo, bikin gemes aja. Berikut picture Danbo diambil dalam berbagai pose yang menggemaskan.
Danbo with StarBucks
Danbo Airport
Danbo Family Skate Board
Danbo and Cat
Danbo Medical Accident
Danbo Bycycle
Danbo Rambo ( Super Hero )
Danbo Superman ( Super Hero )
Danbo get a Rose
Danbo Play Music
Danbo Traditional Game
Danbo Sushi Food


Workshop Jurnalistik Ukm Multimedia Karya Kita

Posted by Multimedia Karya Kita On 0 komentar

Joseph Pulitzer seorang wartawan yang namanya dijadikan Simbol penghargaan karya jurnalistik dunia, adalah seorang jurnalis degan kegigihan, kekritisan dan keuletan dalam melaksanakan tugas jurnalisnya. Berkat liputan Jozeph Pulitzer saat itu mengenai pencurian di sebuah toko milik Roslein maka si pencuri berhasil ditangkap. Awalnya memang pulitzer mendapatkan cemooh dan hujan amarah dari pimpinan redaksinya, terkait pemberitaan yang dibuat atas peristiwa itu, mengingat liputan tersebut sangat berbeda dengan hasil liputan media lain. Namun akhirnya karena rasa keingintahuan dan kegigihannya Pulitser ang melaksanakan tugas jurnalisnya untuk pertama kali berhasil membuat berita yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Cuplikan cerita tersebut disampaikan oleh Sri Mulyadi selaku nara sumber dalam Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Multimedia Karya Kita Universitas Setia Budi Solo.

Workshop satu hari dengan Tema “AKTUALISASI PERS AKADEMIA” merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh UKM Multimedia Karya Kita dan sekaligus sebagai wahana pembelajaran dan pembekalan kepada para jurnalis Kampus (mahasiswa). Demikian dikatakan oleh Robert Islukmandar selaku Ketua Panitia dan sekaligus Ketua UKM Multimedia Karya Kita Universitas Setia Budi Solo. Pada workshop tersebut, Sri Mulyadi juga menyampaikan materi umum tentang fungsi dan peran jurnalis kampus dalam dunia jurnalistik pendidikan. Acara yang digelar pada Senin, 21 November 2011 di ruang A1.3 Gedung Serba Guna Universitas Setia Budi juga menghadirkan Vladimir Langgeng Widodo dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta selaku nara sumber kedua yang menyampaikan materi mengenai peran jurnalis kampus sebagai alat komunikasi publik.

Acara yang dibuka secara simbolis oleh Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan (Naromo ST., MM) Universitas Setia Budi tersebut dihadiri kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari para Guru Sekolah Menengah Atas (SMA), Mahasiswa dan para pelajar SMA  di wilayah sekitar Solo.

Selain wawancara atau diskusi pada akhir sesi workshop, para peserta diajak untuk melakukan liputan dan praktek penulisan press release untuk direview, hal ini dimaksudkan agar konsep yang disampaikan oleh nara sumber selaku pemateri workshop dapat lebih dipahami demikian ditambahkan oleh Robert Is Lukandar.  

By : hesti ( Pusat Informasi Universitas Setia Budi )


Surat Rakyat untuk Mahasiswa (Refleksi dari Kota Jakarta)

Posted by Multimedia Karya Kita On 0 komentar

“Dari Bengawan Menuju kota sesak gedung-Jakarta”

Hari itu, tak disangka dan tak diduga aku dan Sahabat itu memberanikan diri ke Jakarta, dengan menaiki Bengawan (sebutan armada kereta api) di hari liburan. Kali ini awal aku melangkahkan perjalanan yang lumayan jauh, dan baru pertama kalinya mengggunakan kereta api jarak jauh, antar kota antar provinsi.

Kereta detik itu tak diduga, dipenuhi dengan bergerombol rakyat indonesia, dimulai dari yang tujuan nya hendak jalan-jalan, pulang kampung, liburan, hingga seperti kami yang menyapa kota sesak gedung itu. Awal yang agak risih karena sesak, walau ditambah beberapa gerbong ternyata juga tidak memenuhi quota.

Yah akhirnya jadilah nuansa rakyat, hari itu aku merasakan panorama rakyat yang berpuluh-puluh tahun merasakan suasana sesak dan kurang nyaman di transportasi umum. Tapi apalah daya demi niat ke jakarta bertemu rekan dan aktivis mahasiswa, kami pun tetap konsisten  bahwa akan terus berada di dalam gerbong sesak kereta itu.

Perjalanan nya unik, dan perlu diketahui seperti tergambar sebelumnya aku dan sahabat itu tidak mendapat sebuah kursi pun untuk menaruh pantat empuk ini, akhirnya duduk berdiri dan berjaga sepanjang perjalanan.

Tapi banyak hal yang unik terjadi berbagai aktifitas rakyat yang hanya bisa ku bayangkan selama ini kurasakan, perjuangan rakyat terlihat begitu besar disitu. Ada berbagai macam pedagang asongan , mulai yang menjajakan tahu, tissue basah, rokok dan berbagai pernak-pernik kebutuhan konsumen lainnya.. beberapa jam silih berganti, stasiun-stasiun pun silih terlampaui, corak pedagang yang awalnya khas dengan oknum Jawa tengah berubah menjadi kesundaan, oh iya juga ada yang ngapak.

Terlihat sekali lagi bahwa perjuangan rakyat tidak hanya terasa di suatu daerah, namun semua daerah, semua ragam bahasa ingin kehidupan rakyat yang mapan.

Tiba di stasiun yang pedagang asongannya kesundaan, aku melihat dan mendengar dengan nyata suara teriakkan belasan anak-anak kecil dari luar kereta, memanggil dengan tegas penumpang yang ada didalamnya, “pak, bu, mas, mba minta uangnya pak, beri kami uang pak” tukas mereka, yang menjadi anehnya anak-anak itu bekerja di tengah malam,seingat ku tepatnya jam 1 malam,maka semakin tertegunlah hati ini,,
inikah potret ekonomi Indonesia ?

mana janji  Undang-undang yang menjamin setiap orang berhak mengenyam pendidikan, dan kerja yang mapan sesuai dengan umur.

Terlepas dari itu aku tidak habis pikir, mengapa anak-anak itu nekat dan berani, apa mereka tidak capek/ ngantuk di tengah malam seperti itu.

Dari sini aku terdorong, bahwa bersyukurlah kita yang sekarang ini masih diambang kecukupan, sementara banyak jutaan pemuda bahkan anak-anak yang belum tahu kehidupannya di Jam kehidupan besok hari.
Sungguh dilematis, tapi itulah fakta yang aku dan sahabat itu dapati.

Beberapa jam kemudian tibalah di stasiun tanah abang, stasiun yang cukup besar. Besar dengan kesesakan rakyat dan haru-piru dunia ekonomi kelas bawah.
Berlanjut perjalanan kami menggunakan KRL (kereta listrik) menuju pondok ranji. Di perjalanan terlihat lagi betapa menangisnya putra-putri bangsa ini, puluhan rumah terlihat di sepenjang Rel, sementara di seberang sana terlihat ratusan gedung pencakar ayam, yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan anak zaman di tepi rel.
Inilah historia negeri ini, kejadian yang selama ini terlihat hanya di layar kaca menjadi nyata di depan mata.
Astagfirullah, dimana wakil rakyat senayan yang tukasnya mewakili rakyat ?
Mungkin ini yang bisa aku petik selama perjalanan itu, aku tidak bisa menyampaikan banyak cerita namun inilah yang paling membekas.

Semoga nantinya aktivis mahasiswa, pembawa restorasi ibu pertiwi ini bisa membaca setangkai cerita ini, setangkai posting dari rakyat ini, dan berpikir bahwa ada yang lebih penting daripada mengurusi dengan problematika politik di negeri ini. 

Saatnya lah kita mencanangkan ke diri kita, bahwa negeri ini perlu tangan kita, rakyat perlu perubahan, dan mereka sangat berharap kepada kita.

Semoga aktivis-aktivis mahasiswa yang akan terjun kedunia rakyat, guru, Ustadz, dokter,birokrat,atau di politik pemerintahan nantinya bisa memperjuangkan cita-cita rakyat.

Bukan hanya untuk kesejahteraan seperti segelintir orang penduduk senayan, tapi juga kesejahteraan penghuni pinggiran kereta, penghuni tepian gedun menjulang.

Peganglah ini, berjuanglah sahabat(i) aktivis mahasiswa. Berjuanglah,
Darah juang kita menentukan nasib rakyat di jam besok di hari kedepannya.


Pungutan Liar di Dunia Pendidikan

Posted by Multimedia Karya Kita On 27 Nov 2011 0 komentar

Sudah menjadi lagu lama isu pungutan liar di dunia pendidikan ,ironisnya ini terjadi di tengah program pemerintah menjanjikan adanya pendidikan gratis.
Memasuki tahun ajaran baru misalnya, banyak orang tua yang mengeluhkan pungutan yang dilakukan oleh  sekolah. Katanya, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bisa meringankan beban orang tua terutama warga miskin, namun nampaknya belum juga bisa dirasakan.
Larangan pungutan terhadap para akademisi  dari pemerintah pun diabaikan begitu saja oleh banyak pejabat di struktural sekolah hingga kampus. Di daerah mana saja tanpa terkecuali.

Banyak alasan mengapa instansi pendidikan melakukan pungutan, salah satu alasan yang paling banyak dilontarkan yaitu untuk kemajuan mutu pendidikan di instansi pendidikan tersebut. Sebagai mahasiswa kita mengeanal adanya Uang Gedung dan sebagainya saat kita memasuki bangku perkuliahan, hal ini menjadi kedok yang paling ampuh untuk melakukan pungutan liar. Padahal apa yang kita dapat setelah kita membayar semua uang yang disyaratkan oleh kampus tersebut, sangat sedikit yang terbukti bahkan bisa dibilang tidak ada perubahan yang mencolok  terhadap kemajuan di kampus kita.
Alhasil, konsekuensi kebijakan pungutan seperti itu sering menjadi momok dan ketakutan kepada mereka yang tidak memiliki dana kuat untuk menyekolahkan anaknya .
Dan ini sangat berpengaruh terhadap proses pembangunan jangka panjang di negara ini. Apalagi di tengah persaingan ekonomi yang sangat ketat seperti sekarang, untuk bekerja tidak hanya kemauan saja, mealainkan riwayat pendidikan juga sangat dibutuhkan. Sarjana pun sekarang banyak yang jadi pengangguran.

Nah bisa kita bayangkan bagaimana nasib teman-teman kita yang tidak bisa mencicipi bangku pendidikan karena bertambahnya biaya pendidikan yang dibarengi pula dengan pungutan liar tadi.
Akan banyak pemuda yang menganggur, dan Indonesia pun akan semakin kalah daya saingnya terhadap negara lain. Finally akan bertambah pula  jumlah kemiskinan di negara ini.


Opini dari :
Akhmad Rianor Asrari Puadi
Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi Surakarta


Daftar !!

Posted by Multimedia Karya Kita On 0 komentar

Hallo... semua...
Bagi kawan-kawan yang ingin mendaftarkan diri bareng kita silahkan saja kirim data pribadinya ke email redaksi.

Gmail :  mkk.usb@gmail.com

Atau dapatkan informasinya di grup facebook,
klik disini : Multimedia Karya Kita